Rabu, 05 September 2012

Berburu Kenikmatan Kopi di Jakarta

Saya bukan penggila kopi. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menjelajah Jakarta dengan cara berburu kenikmatan secangkir kopi, jika bukan karena ide dari salah satu teman di Couchsurfing dari Amerika yang berkunjung ke Jakarta.

Hampir di setiap mal, selalu ada tempat untuk minum kopi. Dibanding Starbucks atau Coffee Bean yang notabene produk lisensi, pilihan lokal sangat banyak. Dari segi harga, harganya bisa lebih terjangkau kantong.

Apalagi, Indonesia terkenal sebagai penghasil kopi robusta terbaik nomor empat di dunia. Jenis kopi ini menghasilkan rasa yang lebih pahit, kuat dan tajam — cocok bagi penggemar kopi hitam. Beberapa daerah di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil jenis kopi arabica terbaik seperti Sulawesi (Toraja), Aceh (Gayo) dan Papua (Wamena).

Dengan keragaman kualitas kopi terbaik sebagai pilihan, wajar jika kedai kopi lokal ini pun menyajikan variasi kopi untuk diseduh bagi para pengunjungnya. Setidaknya itulah yang disajikan di La Tazza, tempat pertama saya.
Barista sedang meracik kopi di La Tazza. (Syanne Susita)
Kafe yang berdiri sejak tahun 2000 ini terletak di Mal Ambassador, Kuningan. Kopi andalannya adalah kopi hitam (dinamakan Single Origin). Bubuk kopi arabica yang paling populer dipilih dari Aceh dan Papua.

Bagi saya yang sebenarnya bukan penggemar 100 persen kopi, kopi hitam terlalu pahit di mulut. Tapi, harus diakui ketahanan cita rasa kopi hitam terutama dengan bubuk kopi dari Sumatera itu memang tahan lama. Awalnya, mungkin terasa pahit tetapi seperti layaknya proses organik, rasa itu seperti berkembang dan membuat saya untuk meneguk lagi hingga habis secangkir.

Tur kopi lalu berlanjut ke Bengawan Solo. Berdiri mulai pertengahan 2003, kedai kopi ini membuka di pojok basement ITC Kuningan. Namun, kini mereka sudah tersebar di 52 kedai di Jakarta. Andalan mereka justru jenis minuman kopi yang sudah “dimodifikasi,” yaitu: Brandy Cookies.

(Dari namanya, terindikasi jika salah satu campuran dalam kopi ini adalah minuman beralkohol. Padahal, sebenarnya tidak. Menggunakan aromanya saja, kopi  ini menggabungkannya dengan coklat, cookie dan tentunya es batu yang digerus.)
Coba kopi Brandy Cookies yang memiliki aroma menggoda di sini. (Syanne Susita)
Salah satu hal lain yang menyenangkan selama nongkrong di Bengawan Solo adalah desain interior yang nyaman. Didukung dengan ornamen buatan negeri sendiri, entah kenapa saya lebih berasa sedang di rumah. Harga minumannya pun cukup terjangkau di Rp 20-30 ribu secangkir.

Berhubung memiliki perkebunan kopi sendiri, Bengawan Solo pun punya keuntungan untuk menekan harga, terutama untuk penjualan kopi bubuk. Satu kantong Toraja Blend dijual dengan harga 20 ribu perak yang biasanya untuk 10 cangkir kopi. Ini jelas jauh lebih murah dibanding dengan kantongan bubuk kopi yang dijual di kafe lain.

Dari Bengawan Solo, saya segera meluncur ke Kopi Luwak di Pacific Place, tempat tongkrongan premium. Terus terang, saya tidak pernah mencicipi jenis kopi luwak. Jadi, sekalian aja, mencicip kopi luwak di Kopi Luwak. Agak penasaran juga sih karena bubuk kopi ini termasuk yang paling mahal —karena proses pembuatannya yang harus “difermentasikan” di perut luwak.
Jangan lupa untuk memesan kopi premium luwak di sini. (Syanne Susita)
Untuk bisa benar-benar merasakan kenikmatan kopi ini, saya sengaja memilih disajikan dalam minuman esspresso. Teman saya menyarankan agar sebelum meneguk jangan lupa untuk mencium aroma untuk memancing selera.

Dan, memang ketika pertama kali mencium kepulan asap dari secangkir kopi luwak saya sangat membantu untuk mengalihkan rasa kepahitan yang biasa saya dapatkan setiap kali mencoba secangkir kopi hitam.

Walau aromanya tajam, yang membuat saya agak terkejut adalah ternyata rasanya yang tidak sepahit kopi hitam lain. Padahal di gelas esspresso saya yang mungil ini sama sekali tidak saya tuang gula sama sekali.

Akhirnya, saya pun mengerti kenapa kopi luwak menjadi favorit pencinta kopi. Sukses membuat saya resmi menjadi penggemar kopi!

Anda sendiri, punya tempat favorit meminum kopi? Di mana?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share To